Rabu, 24 Oktober 2012

Sejarah Taman Siswa

Pendidikan sebagai sarana sosialisasi merupakan kegiatan manusia yang melekat dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian usia pendidikan hampir dipastikan sama tuanya dengan manusia itu sendiri. Perjalanan sepanjang perkembangan pendidikan di Indonesia dapat ditelusuri sejak zaman Hindu dan Budha pada abad ke-5 masehi. Dari perkembangan sejak zaman itu telah diperoleh gambaran bahwa pendidikan telah berlangsung sesuai dengan tuntutan zaman yang berbeda-beda dengan penyesuaian pada ideologi, tujuan serta sistem pelaksanaannya. Pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan hindu dan budha, pendidikan dipengaruhi ajaran agama tersebut. Demikian pula pada masa awal islam masuk di nusantara, pendidikan dan pengajaran pun mengalami penyesuaian dengan kerangka penyebaran agama islam. Ketika zaman Hindu dan Budha, perkembangan pendidikan disesuaikan dengan pusat pertumbuhan masyarakat Hindu dan Budha yang berkembang bersama kerajaan besar yang ada di Jawa dan Sumatera. Kemudian kedua agama yaitu hindu-budha tersebut berkembang ke berbagai negara di Asia Timur dan Asia Tenggara termasuk ke Indonesia yang akhirnya mempengaruhi kebudayaan Indonesia begitu juga dengan pendidikan yang diajarkan agama Hindu-Budha.

Pembahasan sejarah Hindu-Budha di Indonesia akrab diawali dari kemunculan beberapa kerajaan di abad ke-5 M, antara lain: Kerajaan Hindu di Kutai dengan rajanya Mulawarman, putra Aswawarman atau cucu Kudungga. Di Jawa Barat muncul Kerajaan Hindu Tarumanegara dengan rajanya Purnawarman. Pada masa itu, eksistensi pulau Jawa telah disebut Ptolomeus (pengembara asal Alexandria – Yunani) dalam catatannya dengan sebutan Yabadiou dan demikian pula dalam epik Ramayana eksistensinya dinyatakan dengan sebutan Yawadwipa. Ptolomeus juga sempat menyebut tentang Barousai (merujuk pada pantai barat Sumatera Utara; Sriwijaya). Fa-Hien (pengembara asal China) dalam perjalanannya dari India singgah di Ye-po-ti (Jawa) yang menurutnya telah banyak para brahmana (Hindu) tinggal di sana. Maka tidak berlebihan jika Lee Kam Hing kemudian menyatakan bahwa lembaga-lembaga pendidikan telah ada di Indonesia sejak periode permulaan. Pada masa itu, pendidikan lekat terkait dengan agama.

Menurut catatan I-Tsing, seorang peziarah dari China, ketika melewati Sumatera pada abad ke-7 M ia mendapati banyak sekali kuil-kuil Budha dimana di dalamnya berdiam para cendekiawan yang mengajarkan beragam ilmu. Kuil-kuil tersebut tidak saja menjadi pusat transmisi etika dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga seni dan ilmu pengetahuan. Lebih dari seribu biksu Budha yang tinggal di Sriwijaya itu dikatakan oleh I-Tsing menyebarkan ajaran seperti yang juga dikembangkan sejawatnya di Madhyadesa (India). Bahkan diantara para guru di Sriwijaya tersebut sangat terkenal dan mempunyai reputasi internasional, seperti Sakyakirti dan Dharmapala. Sementara dari pulau Jawa muncul nama Djnanabhadra. Pada masa itu, para peziarah Budha asal China yang hendak ke tanah suci India, dalam perjalanannya kerap singgah dulu di nusantara ini untuk melakukan studi pendahuluan dan persiapan lainnya.

Sejarah agama Hindu-Budha di Indonesia berbeda dengan sejarahnya di India. Disini, kedua agama tersebut dapat tumbuh berdampingan dan harmonis. Bahkan ada kecenderungan syncretism antara keduanya dengan upaya memadukan figur Syiwa dan Budha sebagai satu sumber yang Maha Tinggi. Sebagaimana tercermin dari satu bait syair Sotasoma karya Mpu Tantular pada zaman Majapahit “Bhinneka Tunggal Ika”, yakni dewa-dewa yang ada dapat dibedakan (bhinna), tetapi itu (ika) sejatinya adalah satu (tunggal). Sekalipun demikian, patut diketahui sempat adanya sejarah konflik politik antar kerajaan yang berbeda agama pada masa-masa permulaannya.

relief hindu budha
Gambar : Peninggalan Hindu Budha


Pada masa Hindu-Budha ini, kaum Brahmana merupakan golongan yang menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Perlu dicatat bahwa sistem kasta tidaklah diterapkan di Indonesia setajam sebagaimana yang terjadi di India. Adapun materi-materi pelajaran yang diberikan ketika itu antara lain: teologi, bahasa dan sastra, ilmu-ilmu kemasyarakatan, ilmu-ilmu eksakta seperti ilmu perbintangan, ilmu pasti, perhitungan waktu, seni bangunan, seni rupa dan lain-lain. Pola pendidikannya mengambil model asrama khusus, dengan fasilitas belajar seperti ruang diskusi dan seminar. Dalam perkembangannya, kebudayaan Hindu-Budha membaur dengan unsur-unsur asli Indonesia dan memberi ciri-ciri serta coraknya yang khas. Sekalipun nanti Majapahit sebagai kerajaan Hindu terakhir runtuh pada abad ke-15, tetapi ilmu pengetahuannya tetap berkembang khususnya di bidang bahasa dan sastra, ilmu pemerintahan, tata negara dan hukum. Beberapa karya intelektual yang sempat lahir pada zaman ini antara lain: Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa (Kediri, 1019), Bharata Yudha karya Mpu Sedah (Kediri, 1157), Hariwangsa karya Mpu Panuluh (Kediri, 1125), Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh, Smaradhahana karya Mpu Dharmaja (Kediri, 1125), Negara Kertagama karya Mpu Prapanca (Majapahit, 1331-1389), Arjunawijaya karya Mpu Tantular (Majapahit, ibid), Sotasoma karya Mpu Tantular, dan Pararaton (Epik sejak berdirinya Kediri hingga Majapahit).

Menjelang periode akhir tersebut, pola pendidikan tidak lagi dilakukan dalam kompleks yang bersifat kolosal, tetapi oleh para guru di padepokan-padepokan dengan jumlah murid relatif terbatas dan bobot materi ajar yang bersifat spiritual religius. Para murid disini sembari belajar juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Jadi secara umum dapatlah disimpulkan bahwa:

1. Pengelola pendidikan adalah kaum brahmana dari tingkat dasar sampai dengan tingkat tinggi

2. Bersifat tidak formal, dimana murid dapat berpindah dari satu guru ke guru yang lain;

3. Kaum bangsawan biasanya mengundang guru untuk mengajar anak-anaknya di istana disamping ada juga yang mengutus anak-anaknya yang pergi belajar ke guru-guru tertentu;

4. Pendidikan kejuruan atau keterampilan dilakukan secara turun-temurun melalui jalur kastanya masing-masing.

Reviewer: Ivan Sujatmoko - ItemReviewed: Perkembangan Pendidikan Indonesia Masa Hindu Budha
Rating: 4.5

Ramalan jodoh dan cinta dengan kalkulator cinta
Pada postinga kali ini admin akan memberikan tabel ramalan cinta otomatis dan kalkulator cinta untuk melihat kecocokan kamu dengan pasangan masing masing.

Perlu diketahui bahwa
ramalan jodoh dan cinta dibawah ini merupakan ramalan manusia semata dan tidak ada keharusan untuk mempercayainya. Hal itu tergantung 100% dari anda sendiri, kalau mau percaya atau tidak. Jadi, hasil ramalan ini jangan terlalu diambil pusing, apalagi kalau mau dijadikan referensi kamu dalam menjalin hubungan.

Ramalan jodoh dan cinta






Selasa, 23 Oktober 2012

Perang Tarif Hotel Mulai Terjadi di Bandung
BANDUNG, KOMPAS.com - Pertumbuhan hotel di Jawa Barat, terutama Bandung, memberi dampak pada persaingan tarif hotel yang tidak sehat. Hal tersebut sudah mulai terjadi di Bandung. Demikian diungkapkan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat, Herman Muchtar pada acara seminar "Bandung Tourism Outlook 2013" di GH Universal Hotel, Bandung, Senin (22/10/2012).
"Saya salut dengan satu hotel di Bandung, saya kirim tamu ke hotel bintang tiga ini, dia nggak mau kasih harga turun. Tetapi ada hotel-hotel bintang empat dan lima malah di weekdays kasih tarif di bawah 500 ribu rupiah," tutur Herman yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Promosi Pariwisata Jawa Barat.
Ia menambahkan kondisi bintang empat dan lima yang menurunkan harga membuat hotel-hotel bintang dua ke bawah protes dan kebingungan untuk memasang tarif.
Sebagai gambaran, ungkap Herman, terdapat 168 hotel di Jawa Barat. "Total okupansi 35 sampai 40 persen. Ini seluruh Jawa Barat. Di Bandung memang bisa tinggi, tetapi di daerah lain, kita lihat di Pangandaran okupansi 29 persen. Pelabuhan Ratu yang merupakan daerah tujuan wisata, tak lebih dari 30 persen," jelasnya.
Herman memperkirakan saat ini jumlah kamar di Bandung mencapai lebih dari 15 ribu kamar. Namun, lanjutnya, tingkat okupansi hotel di Bandung di kisaran 55 sampai 60 persen. "Memang ada hotel yang tingkat okupansinya 90 persen, ada yang sampai 200 persen. Tetapi ada juga yang masih 40 persen," ujarnya.
Dalam waktu dekat akan bermunculan hotel-hotel baru yang saat ini tengah dalam proses pembangunan. Ia memberi contoh daerah Jalan Cihampelas. "Dulu cuma ada tiga. Sekarang kalau semua sudah selesai, jadi ada 13 hotel. Itu baru di Cihampelas saja," katanya.
Oleh karena itu, menurut Herman, perlu promosi yang tepat dan terarah untuk masing-masing hotel. Ia menyebutkan jika lokasi hotel, fasilitas, dan pelayanan bagus ditunjang promosi yang terarah, tak menutup kemungkinan minimal 70 persen tingkat okupansi hotel bisa tercapai.
Selain itu, perlu adanya kerja sama dengan segala pihak, baik antara hotel, hotel dengan biro perjalanan wisata, serta industri pariwisata dengan pemerintah daerah. Ia berharap pemerintah daerah dapat mendorong dan membenahi destinasi wisata untuk menarik kunjungan ke Jawa Barat.
"Seperti Gunung Tangkuban Perahu, Maribaya, dan Ciwedey. Maribaya sekarang sangat kotor, tapi saya dengar sekarang sedang ada perbaikan." katanya.
Hal lain yang disoroti Herman adalah mengenai klasifikasi hotel di Jawa Barat. Ia berharap hotel di Jawa Barat melakukan klasifikasi hotel sesuai standar internasional. "Di Jawa Barat, baru ada 49 hotel yang melakukan standardisasi hotel. Bandingkan di Jawa Timur yang setiap tahunnya ada 25 hotel," katanya.
Salah satu kendala untuk urusan klasifikasi hotel adalah hotel-hotel di Jawa Barat seringkali menghadapi pungutan liar dari oknum-oknum di Dinas Pariwisata Jawa Barat. "Ada hotel yang diminta pungutan liar 5 juta sampai 8 juta. Ternyata ada pungutan-pungutan dari oknum-oknum di Dinas Pariwisata," ujarnya.
Namun, tambah Herman, saat ini oknum-oknum tersebut telah dipindahkan, sehingga hotel-hotel di Jawa Barat bisa tenang mengajukan klasifikasi hotel ke Dinas Pariwisata Jawa Barat
Perang Terhadap Korupsi Butuh TerobosanHeadline
INILAH.COM, Jakarta - Berbagai kalangan mempertanyakan komitmen pemerintah dalam pemberantasan korupsi. Sistem saat ini dinilai masih berikan ruang bebas bagi praktik korupsi.
Fokus pemerintah masih pada upaya pemberantasan bukan pencegahan. Kondisi ini harus dihentikan agar praktik korupsi dapat diminimalisasi dengan melakukan pembenahan sistem pemerintahan.
Mantan Menteri Hukum Yusril Ihza Mahendra mempertanyakan peran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang berujar memimpin perang terhadap korupsi di awal pemerintahannya. Pertanyaan itu terlontar lantaran dia tidak melihat upaya yang jelas dari pemimpin negara itu.
Senada dengan Yusril, Komunitas Pengusaha Antisuap Indonesia (KUPAS) dan Gerakan Nasional Indonesia Berintegritas (GNIB) mempertanyakan sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang tidak kunjung merespon gagasan pemberlakuan UU Pembuktian Terbalik Murni (UU-PTM). KUPAS dan GNIB mengusulkan hal ini untuk menanggulangi korupsi yang kian merajalela
Berbagai kalangan investor dan pengusaha sudah pesimistis terhadap komitmen pemerintahan SBY dalam hal pemberantasan korupsi. Pasalnya, dari waktu ke waktu kasus-kasus korupsi yang melibatkan para pejabat publik kian merajalela.
Pelantikan dan promosi terpidana korupsi sebagai pejabat seperti belum lama ini terjadi, makin menunjukkan bukti rendahnya komitmen pemerintah memberantas korupsi. Sebuah harian ibukota bahkan mencatat sedikitnya ada sembilan terpidana korupsi yang kembali diangkat menduduki jabatan publik di Provinsi Kepulauan Riau.
Ada baiknya SBY setidaknya memberlakukan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang tentang Pembuktian Terbalik Murni karena tidak mudah melahirkan UU.
Selama ini pemberantasan korupsi di Indonesia seperti jalan di tempat. Survei Transparency International menunjukkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia pada 1996 adalah 2,6. Sampai 2011, IPK Indonesia menjadi 3,0. Artinya, dalam tempo 15 tahun, pemberantasan korupsi di negeri ini hanya bergerak 0,4. Ini sekali lagi menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah dalam upaya pemberantasan korupsi.
Dalam kaitan ini, UU Pembuktian Terbalik Murni yang digagas KUPAS/GNIB bersifat tidak berlaku surut. Artinya tidak dapat digunakan untuk menjerat kasus-kasus korupsi yang terjadi sebelum UU tersebut diberlakukan secara efektif. Kasus-kasus Korupsi yang terjadi sebelumnya, tetap di proses dengan pasal-pasal yang khusus.
Sedangkan harta hasil korupsi yang diperoleh sebelum pemberlakuan UU ini, hal itu akan diproses dengan UU yang sudah ada, misalnya, UU No. 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan atau UU No. 8/2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.
Pada prinsipnya, pemberantasan korupsi dan suap harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan berkesinambungan, dengan memanfaatkan perangkat hukum yang sudah ada dan yang akan disusun kemudian.
Agar UU Pembuktian Terbalik Murni benar-benar efektif, ada beberapa hal pokok yang harus diatur secara tegas. Antara lain soal hukuman bagi para koruptor harus dikenai sanksi hukuman yang berat, minimal 10 tahun.
Selain itu, perlu juga ada pasal-pasal tentang penyitaan. Harta kekayaan milik koruptor yang tidak dapat dibuktikan diperoleh bukan melalui tindak pidana korupsi, harus disita untuk negara. Untuk menimbulkan efek jera, harus diatur terpidana korupsi tidak diberikan remisi atau pengurangan hukuman.
Semoga Presiden SBY berani bersikap dan tidak melakukan pembiaran atas sistem yang membuka peluang besar bagi korupsi. Pada akhirnya, dalam upaya membasmi korupsi, kepemimpinan sangat menentukan untuk membawa demokrasi berjalan baik dan dinamis, tidak oleng dan terseok di tebing curam korupsi yang mencelakakan. [mdr]

Pemberantasan Korupsi Iba


JAKARTA - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad menyatakan, pemberantasan korupsi yang saat ini dipimpinnya ibarat berperang. Baginya tidak ada istilah mundur dari peperangan ini dan akan jadi sangat pengecut bila saat ini dirinya memilih mundur.
“Ibarat perang, ini perang melawan korupsi di Indonesia. Sebagai pimpinan KPK, saya tak akan dan tak boleh mundur dari peperangan ini tanpa membawa hasil apa pun. Kalau saya tinggalkan medan perang ini, saya sama saja dengan seorang pengecut,” ujar Abraham, Senin (22/10) malam di Jakarta.
Oleh sebab itu, tambah Abraham, ia tidak akan pulang kampung jika tidak membawa hasil. “Saya memang pernah berkata, saya akan pulang kampung jika saya tak berbuat apa-apa melawan korupsi. Tapi, apakah saya benar-benar tidak berbuat apa-apa selama setahun ini,” tanyanya.
Ia berharap masyarakat adil menilainya dan memberikan apresiasi jika ia memang sudah berbuat sesuatu bagi masyarakat. “Jangan hanya melihat satu kasus saja, misalnya saya baru dinilai berhasil jika sudah menuntaskan kasus Bank Century. Jangan begitu, ini tidak adil bagi KPK,” tuturnya.
Abraham mengatakan, ia sudah menangani banyak kasus korupsi. "Apakah kasus-kasus yang sudah ditangani KPK, seperti kasus wisma atlet, pengadaan kitab suci Al Quran, Hambalang, dan kasus Simulator. Kasus ini sangat besar hambatannya, tetapi saya terus menghadapinya,” papar pria kelahiran Makassar ini.
“Jadi, tidak ada istilah surut bagi KPK dalam berperang melawan korupsi. KPK harus gencar dalam memerangi kasus korupsi, kasus apa pun. Sekali lagi, kasus Bank Century itu bisa ditangani dan tidak ada hambatan apa-apa. Saya akan tuntaskan dan meningkatkannya ke penyidikan,” lanjut Abraham lagi.
Abraham juga pernah menyampaikan harapannya agar apa yang dilakukan KPK selama ini bisa memberikan dampak yang signifikan terhadap upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. “Saya berharap 33 tahun lagi, disaat ulang tahun Republik Indonesia yang keseratus, korupsi tidak ada lagi di Indonesia,” katanya.
Pria yang pernah menjadi advokat ini menekankan bahwa salah satu penyebab dari meningkatnya korupsi di masyarakat adalah perilaku konsumerisme. “Kita seringkali berusaha untuk membeli gadget baru meskipun gadget lama belum perlu diganti, karena kita terjebak konsumerisme. Lifestyle seperti inilah yang kemudian menjadi cikal bakal perilaku korupsi. Bila kita terjebak dalam kehidupan yang konsumer,” paparnya.
Selain itu, Abraham juga menambahkan perspektif ‘sukses’ yang dimiliki masyarakat awam pun seringkali menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat untuk melakukan perilaku korup. “Banyak orang yang beranggapan, lawyer yang hebat adalah lawyer yang memiliki uang banyak, Mobil Hummer, cincinnya tiga. Tapi hal yang perlu kita ingat, kita tidak boleh mengumpulkan uang banyak dengan cara yang tidak benar. Seringkali, ketika anda hidup susah, dan mempertahankan nilai-nilai, masyarakat menganggapnya sebagai lawyer yang tidak berhasil,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Abraham Juga juga menekankan pentingnya anak muda untuk mempertahankan nilai-nilai idealisme dan tidak tidak berorientasi pada harta benda. “Anak muda seharusnya memiliki orientasi. Orang-orang sukses adalah orang-orang yang bisa tetap mempertahankan idealisme dan integritasnya. Kalau korupsi semakin berkembang, akan berdampak secara langsung untuk memiskinkan rakyat,” paparnya.
Karena korupsi, lanjut Abraham, pelajar-pelajar yang masih bersekolah di bangku SD hingga SMA banyak yang belajar dengan keadaan sekolah terbatas. Andalah yang menjadi salah satu penanggung jawab terhadap korupsi, jadi jangan sekali-sekali membiarkan perilaku korupsi di negeri anda. Bila anda membiarkan korupsi, anda akan membuat negeri ini tetap dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan,” pungkas Abraham. kcm,ins
rat Perang

Sejarah Perang Dunia 1

Perang Dunia I (juga dinamakan Perang Dunia Pertama, dan nama dalam bahasa Inggris lainnya: Great War, War of the Nations, dan “War to End All Wars” (Perang untuk Mengakhiri Semua Perang) adalah sebuah konflik dunia yang berlangsung dari tahun 1914 hingga tahun 1918. Perang ini dimulai setelah Pangeran Ferdinand dari Austria dibunuh anggota kelompok teroris Serbia, Gavrilo Principe di daerah Sarajevo
Tidak pernah terjadi sebelumnya konflik sebesar ini, baik dari jumlah tentara yang dikerahkan dan dilibatkan, maupun jumlah korbannya. Senjata kimia digunakan untuk pertama kalinya, pemboman massal warga sipil dari udara dilakukan, dan banyak dari pembunuhan massal berskala besar pertama abad ini berlangsung saat perang ini. Empat dinasti, Habsburg, Romanov, Ottoman dan Hohenzollern, yang mempunyai akar kekuasaan hingga zaman Perang Salib, seluruhnya jatuh setelah perang.
Perang Dunia I menandai berakhirnya monarki absolutisme di Eropa. Ia juga menjadi pemicu Revolusi Rusia, yang akan menginspirasi revolusi lainnya di negara lainnya seperti Tiongkok dan Kuba, dan akan menjadi basis bagi Perang Dingin antara Uni Soviet dan AS. Kekalahan Jerman dalam perang ini dan kegagalan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang masih menggantung yang telah menjadi sebab terjadinya Perang Dunia I akan menjadi dasar kebangkitan Nazi, dan menjadi sebab pecahnya Perang Dunia II pada 1939. Ia juga menjadi dasar bagi peperangan bentuk baru yang sangat bergantung kepada teknologi, dan akan melibatkan non-militer dalam perang seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya.
LATAR BELAKANG
1. Pembunuhan Pangeran Austria Franz Ferdinand oleh kelompok teroris Serbia, Gavrilo Principe di Sarajevo, Bosnia. Principe menganggap bahwa latihan perang tentara Austria di Bosnia adalah pelecehan terhadap Serbia. Bosnia sendiri adalah negara sengketa antara Austria dan Serbia.
Kemudian Austria memberi ultimatum Serbia jika Principe tidak diserahkan (ke Austria) dalam waktu satu bulan, maka Austria akan menyerang Serbia
Serbia yang melindungi warga negaranya, tidak mau menyerahkan Principe. Serbia berani menentang Austria karena Rusia berjanji akan membantu Serbia jika Serbia diserang Austria.
Maka pada tanggal 28 Juli 1914 Austria menyerang Serbia.
2. Persaingan merebut daerah sumber bahan baku, penanaman modal, dan daerah pemasaran.
3. Munculnya persekutuan / Blok persaingan politik antar negara-negara Eropa : Triple Alliance : Jerman, Austria, Italia, Triple Entente : Inggris, Perancis, Uni Soviet
Di Eropa abad ke-19, penjajahan tersebar luas. Kekuatan bangsa Eropa seperti Inggris dan Prancis telah membangun kekuasaan penjajahan di keempat penjuru dunia. Jerman, yang telah membangun kesatuan politiknya lebih lama daripada negara-negara lain, bekerja keras untuk menjadi pelopor dalam perlombaan ini.
Pada awal abad ke-20, hubungan yang didasarkan pada kepentingan telah membagi Eropa menjadi dua kutub yang berlawanan. Inggris, Prancis, dan Rusia berada di satu pihak, dan Jerman beserta Kekaisaran Austria-Hungaria yang diperintah oleh keluarga Hapsburg asal Jerman berada di pihak lainnya.
Ketegangan antara kedua kelompok ini semakin hari semakin meningkat, hingga akhirnya suatu pembunuhan pada tahun 1914 menjadi pemicu perang. Pangeran Franz Ferdinand, pewaris tahta Kekaisaran Austria-Hungaria, dibunuh oleh kaum nasionalis Serbia yang berusaha menekan pengaruh kekaisaran tersebut di daerah Balkan.
Dalam kurun waktu yang amat singkat, hasutan setelah peristiwa ini menyeret seluruh benua Eropa ke dalam kancah peperangan. Pertama, Austria-Hungaria menyatakan perang kepada Serbia. Rusia, sekutu abadi bangsa Serbia kemudian menyatakan perang terhadap Austria-Hungaria.
Lalu satu demi satu, Jerman, Inggris, dan Prancis, memasuki peperangan. Sumbu sudah dinyalakan.
Bahkan sebelum perang dimulai, Dewan Jenderal Jerman telah membuat rencana dan memutuskan untuk menguasai Prancis melalui serangan mendadak. Untuk mencapai tujuan ini, orang-orang Jerman memasuki Belgia dan kemudian melintasi perbatasan memasuki Prancis. Menanggapi dengan cepat, pasukan Prancis menghentikan pasukan Jerman di tepi Sungai Marne dan memulai suatu serangan balik.
SITUASI PERANG DI PARIT PERLINDUNGAN
Parit PD 1
Perang Dunia menjadi terkenal dengan peperangan parit perindungannya, di mana sejumlah besar tentara dibatasi geraknya di parit-parit perlindungan dan hanya bisa bergerak sedikit karena pertahanan yang ketat. Ini terjadi khususnya terhadap Front Barat. Lebih dari 9 juta jiwa meninggal di medan perang, dan hampir sebanyak itu juga jumlah warga sipil yang meninggal akibat kekurangan makanan, kelaparan, pembunuhan massal, dan terlibat secara tak sengaja dalam suatu pertempuran, terjebak diantara peperangan.
Perang parit menjadi strategi utama Perang Dunia Pertama. Selama beberapa tahun berikutnya, bisa dikatakan, para serdadu hidup dalam parit-parit ini. Kehidupan di sana benar-benar sulit. Para prajurit hidup dalam ancaman terus-menerus dibom, dan mereka tak henti-hentinya menghadapi ketakutan dan ketegangan yang luar biasa. Mayat mereka yang telah tewas terpaksa dibiarkan di tempat-tempat ini, dan para serdadu harus tidur di samping mayat-mayat tersebut. Bila turun hujan, parit-parit itupun dibanjiri lumpur yang membatasi gerak mereka.
Parit PD 2
Lebih dari 20 juta serdadu yang bertempur di Perang Dunia I mengalami keadaan yang mengerikan di dalam parit-parit ini, dan sebagian besar meninggal di sana. Dalam beberapa minggu setelah dimulai oleh serangan Jerman pada tahun 1914, garis barat perang ini sebenarnya terpaku di jalan buntu. Para serdadu yang bersembunyi di parit-parit ini terjebak dalam jarak yang hanya beberapa ratus meter jauhnya satu sama lain. Setiap serangan yang dilancarkan sebagai upaya mengakhiri kebuntuan ini malah menelan korban jiwa yang lebih banyak.
STRATEGI JERMAN
Pasukan Jerman
Di awal tahun 1916, Jerman mengembangkan rencana baru untuk mendobrak garis barat. Rencana mereka adalah secara mendadak menyerang kota Verdun, yang dianggap sebagai kebanggaan orang Prancis. Tujuan penyerangan ini bukanlah memenangkan perang, melainkan menimbulkan kerugian yang besar di pihak tentara Prancis sehingga melemahkan perlawanan mereka. Kepala staf Jerman Falkenhayn memperkirakan bahwa setiap satu serdadu Jerman saja dapat membunuh tiga orang serdadu Prancis.
Serangan dimulai pada tanggal 21 Febuari. Para pemimpin Jerman memerintahkan serdadunya untuk “keluar dari parit mereka,” namun tiap serdadu yang melakukannya justru telah tewas atau sekarat dalam sekitar tiga menit. Meskipun penyerangan berlangsung tanpa henti selama berbulan-bulan, Jerman gagal menduduki Verdun.
Secara keseluruhan, kedua pihak kehilangan sekitar satu juta serdadu. Dan dengan pengorbanan itu, garis depan hanya berhasil maju sekitar 12 kilometer. Satu juta orang mati demi selusin kilometer.
BALASAN INGGRIS
Perang Dunia 1
Inggris membalas serangan Jerman di Verdun dengan Pertempuran Somme. Pabrik-pabrik di Inggris membuat ratusan ribu selongsong meriam.
Rencana Jendral Douglas Haig mendorong Pasukan Inggris untuk menghujani dengan pengeboman terus-menerus selama seminggu penuh, yang diikuti dengan serangan infanteri. Dia yakin mereka akan maju sejauh 14 kilometer di hari pertama saja dan kemudian menghancurkan semua garis pertahanan Jerman dalam satu minggu.
Serangan dimulai pada tanggal 1 Juni. Pasukan meriam Inggris menggempur pertahanan Jerman selama seminggu tanpa henti. Di akhir minggu tersebut, para perwira Inggris memerintahkan serdadunya memanjat keluar dari parit. Namun, selama pengeboman tersebut para serdadu Jerman berlindung dengan rapat di kedalaman parit persembunyian mereka sehingga tidak terlumpuhkan dan menggagalkan rencana Inggris. Begitu serdadu Inggris bergerak melintasi garis depan, serdadu Jerman muncul menyerang mereka dengan senapan mesinnya. Sejumlah total 20.000 serdadu Inggris tewas dalam beberapa jam pertama perang tersebut. Di dalam kegelapan malam itu, daerah di antara dua garis pertempuran penuh dengan puluhan ribu mayat dan juga serdadu yang terluka, yang mencoba merangkak mundur.
Pertempuran Somme tidak berlangsung dua minggu seperti yang direncanakan Jendral Haig, melainkan lima bulan. Bulan-bulan ini tidak lebih daripada pembantaian. Para jendral bertubi-tubi mengirimkan gelombang demi gelombang serdadu mereka menuju kematian yang telah pasti. Di akhir pertempuran, kedua belah pihak secara keseluruhan telah kehilangan 900.000 prajuritnya. Dan untuk ini, garis depan bergeser hanya 11 kilometer. Para serdadu ini dikorbankan demi 11 kilometer saja.
JUMLAH KORBAN
pasukan PD1
* Belgia: 13.700
* Kekaisaran Britania: 908.000
o Australia: 60.000
o Kanada: 55.000
o India: 25.000
o Selandia Baru: 16.000
o Afrika Selatan: 7.000
o Inggris: 715.000
* Perancis: 1.354.000
* Yunani: 5.000
* Italia: 650.000
* Jepang: 300
* Rumania: 336.000
* Rusia: 1.700.000
* Serbia: 450.000
* AS: 50.600
Kekuatan As ( Axis Powers ): 3.382.500
* Austria-Hungaria: 1.200.000
* Bulgaria: 87.500
* Jerman: 1.770.000
* Kerajaan Ottoman: 325.000
Warga sipil: 6.493.000
* Austria: 300.000
* Belgia: 30.000
* Inggris: 31.000
* Bulgaria: 275.000
* Perancis: 40.000
* Jerman: 760.000
* Yunani: 132.000
* Rumania: 275.000
* Rusia: 3.000.000
* Serbia: 650.000
* Kerajaan Ottoman: 1.000.000
Kedua belah pihak melakukan lebih banyak serangan lagi selama Perang Dunia I, dan setiap serangan ini menjadi pembantaian diri sendiri. Di kota Ipres di Belgia saja, berlangsung tiga pertempuran. Setengah juta serdadu tewas di pertempuran ketiga saja. Setiap serangan berakibat sama: Ribuan nyawa melayang hanya untuk maju beberapa kilometer.
Peperangan yang mengerikan ini, yang tidak punya alasan kuat, menelan nyawa orang tak bersalah yang tak terhitung banyaknya. Banyak orang kehilangan saudaranya atau harus meninggalkan rumahnya.
Korban PD 2
Korban PD 3
AKHIR PEPERANGAN
Kekalahan Jerman di Front Barat mengakibatkan kehidupan rakyat semakin bertambah susah. Keadaan Jerman seperti ini menimbulkan gerakan dari kaum komunis (spartacis) yang hendak menggulingkan pemerintahan. Jerman menghadapi serangan dua kali yaitu dari pihak sekutu dan pemberontakan dari kaum komunis. Karena serangan itu Jerman terpaksa menyerah pada tahun 1918. Hitler menamakan gerakan spartacis itu sebagai tusukan pisau dari belakang punggung Jerman, yang menyebabkan Kaisar Wilhelm II turun takhta dan pemerintahan dipegang oleh Elbert (beraliran sosialis). Akhirnya, Jerman dijadikan republik dan selanjutnya menyerah kepada pihak sekutu.
Sementara itu di Austria timbul pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh kaum komunis dan kaum Slavia, yang mengakibatkan Kaisar Karl (pengganti Kaisar Frans Joseph II) terpaksa turun takhta tahun 1918 sehingga Austria-Hongaria menjadi republik.
Setelah Perang Dunia I berakhir, baik negara-negara yang menang perang maupun yang kalah perang sibuk mengadakan perjanjian-perjanjian damai seperti : Perjanjian Versailles, Perjanjian St.Germain, Perjanjian Neuilly, Perjanjian Trianon, dan Perjanjian Sevres.
Korban PD1
Pada tahun 1918, Perang Dunia I akhirnya berakhir, setelah empat tahun serangan tanpa guna di tangan tentara Jerman, Prancis, dan Inggris. Namun perdamaian ini, yang dinyatakan pada jam 11 pagi, hari kesebelas dari bulan kesebelas, tidak membawa kebahagiaan untuk siapa pun. Ratusan ribu serdadu menjadi cacat. Sebagian lainnya terbukti tidak mampu mengatasi dampak kejiwaan karena perang setelah tinggal di dalam parit yang penuh dengan lumpur, kotoran, dan mayat. Bentuk trauma yang dikenal sebagai “shell shock” atau “kejutan bom” sangat umum di antara para veteran perang, dan hal ini menyebabkan penderitanya mengalami serangan ketakutan dan goncangan yang berat. Rasa takut akan dibom, yang mereka alami setiap hari selama empat tahun berturut-turut, telah terukir di benak mereka. Ada beberapa penderita yang merasa harus segera bersembunyi hanya karena kata ‘bom’ disebutkan. Beberapa veteran bahkan merasa ngeri setiap kali mereka melihat seragam. Puluhan ribu serdadu juga kehilangan satu atau lebih anggota badannya dalam perang ini. Serdadu ini adalah tentara yang mata, dagu, atau hidungnya menjadi cacat selama pengeboman, sehingga topeng khusus diciptakan di Eropa untuk menyembunyikan wajah mereka yang cacat.
Korban PD 4